__________________________________________________________________

Memuat...

Aji Saka | Legenda huruf jawa

kali ini saya share sebuah cerita legenda dari jawa timur yang lumayan terkenal di indonesia, siapa yang tidak tahu seorang sakti dan LEGENDA huruf jawa (aksara jawa) yang bernama Aji Saka ? nah,,, yang belum tahu tentang cerita ini silahkan disimak ... Cekiiidooot,,,, 





Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan.

Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. 

Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah.. setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

Setelah beberapa waktu lamanya ia teringat akan pusakanya yang ia tinggal di Majethi dan dijaga oleh Sembadha. Maka ia memanggil Dora untuk menghadapnya.

“Paman Dora, aku meminta kesediaan paman untuk menjemput paman Sembadha dan membawa pusakaku yang dijaganya kemari,” titah pangeran Aji Saka.

Dora tanpa membuang waktu segera berlayar menuju Majethi. Singkatnya kedua teman yang sudah lama tidak berjumpa itu saling berpelukan melepaskan rindu.

“Wah. Apa kabar sahabatku Dora? Aku sudah khawatir kalian melupakanku,” kata Sembadha.

“Tentu saja kami tidak melupakanmu! Justru aku diutus untuk menjemputmu sekaligus membawa pusakanya untuk dibawa ke pulau Jawa, karena pangeran kini sudah menjadi raja di sana,” kata Dora.

“Tunggu! Pangeran menyuruhku meninggalkan Majethi dan menyerahkan pusaka kerajaan kepadamu?” tanya Sembadha.

“Ya betul. Itu perintah pangeran,” kata Dora mantap.

“Maaf aku tidak bisa melaksanakannya. Pangeran Aji Saka sendiri yang memerintahkanku menjaga kerajaan Majethi dan aku tidak boleh menyerahkan pusaka ini kepada siapapun kecuali pangeran sendiri yang mengambilnya,” tolak Sembadha.

“Lho aku juga diperintah kok! Atau jangan-jangan kamu sudah merasa menjadi raja di sini hingga tidak mau menemui tuanmu,” kata Dora emosi.

“Enak saja kalau bicara! Mungkin justru kamu yang ingin mengkhianati tuanmu. Mana buktinya kalau kau benar-benar diperintah oleh pangeran Aji Saka. Siapa tahu kau hendak mencuri pusaka kerajaan,” balas Sembadha tak kalah emosi.

“Sembarangan ya! Kamu memang harus diberi pelajaran,” teriak Dora sambil menghunus kerisnya.

Ujung keris itu menghujam perut Sembadha yang terkejut dengan serangan mendadak tersebut. Tapi ia masih sempat menghujamkan senjatanya juga ke ulu hati Dora. Mereka berdua mata mempertahankan keyakinannya masing-masing.

Berita kematian mereka sampai juga di telinga pangeran Aji Saka. Ia sangat sedih. Untuk mengenang kesetiaan mereka berdua ia mengukir beberapa kalimat di sebuah batu. Bunyi kalimat itu adalah:

Ha Na Ca Ra Ka - Ada utusan
Da Ta Sa Wa La - Saling bertengkar
Pa Dha Ja Ya Nya - Sama saktinya
Ma Ga Ba Ta Nga - Sama-sama menjadi mayat.(meninggal)

Huruf-huruf yang diukir oleh pangeran Aji Saka ini menjadi asal-usul huruf Jawa.

   TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA    
admin indo-seven 

1 comment:

Tutuk Joilendra mengatakan...

Punten.... keparenga dalem dherek ngopi nggih, mas?

Poskan Komentar